Nyanyian waktu bersenandung pelan,
Mengiringi langkah kita di taman harapan,
Mentari tersenyum melihat eratnya genggaman,
Karena kita bukan hanya teman — kita cahaya dalam pelukan
zaman.
Angin berlari, membawa tawa kita ke langit,
Langit pun menari, menyambut riuhnya pelita kasih,
Kita bukan sekadar insan biasa yang bersua di persimpangan,
Kita adalah bintang-bintang yang ditenun semesta dalam satu
pelukan.
Nada kebersamaan menyatu dalam irama jiwa,
Kita adalah puisi yang ditulis semesta dengan tinta bahagia,
Waktu tak mampu menghapus coretan kenangan,
Sebab persahabatan kita adalah lukisan abadi di dinding
kehidupan.
Awan pun cemburu pada keteduhan kita,
Karena hanya hati yang tulus bisa setegar ini dalam suka dan
nestapa,
Kita bukan hanya kawan — kita adalah akar dari pohon yang
sama,
Yang saling menopang, tumbuh dalam peluk hangat makna.
Nurani bersuara dalam diam yang paling jujur,
Kau dan aku — cermin bagi jiwa yang rapuh namun luhur,
Kita menari di atas luka, menjahitnya dengan tawa,
Menjadikan setiap goresan, permadani cerita.
Gemuruh dunia takkan mampu memisahkan,
Karena kita adalah pelangi yang dilukis badai dalam
keindahan,
Persaudaraan ini bukan hanya rasa — ia adalah nyawa kedua,
Yang hidup dan bernapas, dalam jiwa yang saling menjaga.
Sarangan, 110525


0 comments:
Posting Komentar