Dalam khazanah keislaman, terdapat sebuah ungkapan yang sangat populer, yaitu “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Kalimat ini sering dikutip oleh para guru, ustadz, bahkan tokoh masyarakat untuk menegaskan pentingnya menuntut ilmu tanpa batas ruang dan waktu. Ungkapan tersebut, meski sering disangka hadits Nabi Muhammad ﷺ, oleh sebagian ulama dinilai lemah sanadnya. Namun, terlepas dari statusnya, pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap relevan, bahkan semakin penting di era globalisasi ini.
Dalam perspektif
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP), menuntut ilmu merupakan
kewajiban yang melekat pada setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan,
sejak lahir hingga akhir hayat. Al-Qur’an dan hadits banyak menegaskan bahwa
ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia keluar dari kegelapan kebodohan
menuju cahaya kebenaran. Ungkapan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”
menjadi simbol kesungguhan, ketekunan, dan keluasan cakrawala berpikir yang
harus dimiliki seorang penuntut ilmu.
Asal Usul
Ungkapan
Ungkapan
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” diduga berasal dari sebuah riwayat
hadits yang berbunyi:
> اطلبوا العلم
ولو بالصين
Uṭlubū al-‘ilma
wa law biṣ-ṣīn
“Tuntutlah ilmu
walaupun sampai ke negeri Cina.”
Riwayat ini
disebutkan dalam beberapa kitab hadits, seperti Musnad al-Bazzar dan Shu’ab
al-Iman karya Imam al-Baihaqi. Namun, menurut sebagian besar ahli hadits,
sanadnya lemah (dha’if). Meskipun demikian, para ulama seperti Imam al-Ghazali
dan al-Zarnuji memandang bahwa makna yang dikandungnya sejalan dengan ajaran
Islam tentang kewajiban menuntut ilmu.
Mengapa yang
dipilih adalah negeri Cina? Pada masa Nabi ﷺ, Cina dikenal sebagai negeri yang
sangat jauh dari Jazirah Arab, dengan jarak ribuan kilometer. Selain itu, Cina
terkenal sebagai pusat peradaban, pengrajin, dan penemuan teknologi, seperti
kertas dan mesiu. Menyebut Cina sebagai tujuan belajar menjadi simbol
kesungguhan menempuh perjalanan jauh demi meraih ilmu.
Makna Filosofis Ungkapan
Ungkapan ini
sarat makna, baik dari segi keagamaan, sosial, maupun pendidikan. Beberapa
makna yang dapat kita petik antara lain:
1. Ilmu Tidak
Mengenal Batas Geografis
Kalimat ini
mengajarkan bahwa menuntut ilmu tidak dibatasi oleh jarak dan lokasi. Seorang
muslim harus siap menempuh perjalanan jauh, bahkan ke tempat yang asing, demi
memperoleh pengetahuan yang bermanfaat. Dalam konteks modern, ini bisa
diartikan sebagai kesiapan untuk belajar dari berbagai sumber, termasuk dari
negara lain, baik secara langsung maupun melalui media digital.
2. Menghargai
Peradaban Lain
Islam
mengajarkan keterbukaan terhadap peradaban luar selama tidak bertentangan
dengan akidah. Pada masa lalu, para ilmuwan muslim banyak belajar dari peradaban
Yunani, Persia, dan India, lalu mengembangkannya. Menyebut Cina sebagai tujuan
belajar menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk mempelajari kebaikan
dari bangsa lain.
3.
Kesungguhan dalam Mencari Ilmu
Perjalanan ke
Cina pada abad ke-7 bukanlah perkara mudah. Medan berat, biaya besar, dan waktu
yang lama menjadi tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa mencari ilmu memerlukan
pengorbanan, ketekunan, dan kesabaran.
4. Ilmu
sebagai Kunci Kemajuan
Ungkapan ini
menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada penguasaan ilmu
pengetahuan. Belajar dari negeri yang maju di bidang teknologi dan kebudayaan
adalah salah satu jalan untuk membangun kekuatan umat.
Relevansi dengan
Al-Qur’an dan Hadits
Walaupun
haditsnya lemah, pesan moralnya sejalan dengan ajaran Islam yang sahih.
Beberapa dalil yang mendukung pentingnya menuntut ilmu antara lain:
1.
Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq
ayat 1–5:
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(١) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ(٢) اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(٤) عَلَّمَ الْإِنسَانَ
مَا لَمْ يَعْلَمْ(٥)
“Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…”
Ayat ini adalah
wahyu pertama yang menunjukkan bahwa perintah membaca dan belajar menjadi
pondasi agama.
2.
Hadits riwayat Ibnu
Majah:
"طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ"
“Menuntut ilmu
itu wajib atas setiap muslim.”
Hadits ini jelas
menunjukkan kewajiban menuntut ilmu tanpa memandang jenis kelamin atau status
sosial.
3.
Al-Qur’an Surat
Al-Mujadilah ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا
قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ
وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ
وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١ .
“Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ayat dan hadits
tersebut memperkuat pesan bahwa Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu dan
menghargai para ahli ilmu.
Implementasi
dalam Kehidupan Modern
Di era
globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, “perjalanan” untuk mencari ilmu
tidak selalu harus secara fisik. Internet, kursus daring, dan pertukaran
pelajar memungkinkan kita menuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia tanpa harus
meninggalkan rumah. Namun, esensi dari ungkapan tersebut tetap sama:
kesungguhan, keterbukaan, dan keuletan.
Beberapa
implementasi yang relevan:
Mengikuti
beasiswa ke luar negeri untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mengakses
literatur internasional melalui perpustakaan digital.
Menghadiri
seminar atau pelatihan yang diisi oleh narasumber dari berbagai negara.
Mempelajari
bahasa asing untuk membuka wawasan global.
Pelajaran Budi
Pekerti
Dalam mata
pelajaran PAIBP, menuntut ilmu tidak hanya berarti menguasai pengetahuan
akademik, tetapi juga membentuk akhlak mulia. Ilmu tanpa akhlak akan membawa
kerusakan. Oleh karena itu, proses belajar harus diiringi dengan:
Keikhlasan:
menuntut ilmu karena Allah, bukan sekadar mencari popularitas.
Tawadhu’: rendah
hati terhadap guru dan sesama penuntut ilmu.
Istiqamah:
konsisten belajar meski menghadapi kesulitan.
Berbagi ilmu:
menyebarkan pengetahuan untuk kemaslahatan umat.
Kritik dan
Klarifikasi
Penting untuk
menjelaskan bahwa tidak semua yang populer di masyarakat adalah hadits sahih.
Status dha’if pada hadits ini tidak berarti pesannya salah, tetapi kita perlu
berhati-hati dalam menyebut sumbernya. Guru dan penceramah sebaiknya
menjelaskan kepada peserta didik bahwa makna ungkapan ini tetap sejalan dengan
nilai Islam, meskipun tidak termasuk hadits yang kuat sanadnya.
Kesimpulan
Ungkapan
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” mengandung pesan moral yang mendalam
tentang semangat belajar tanpa batas, keterbukaan terhadap peradaban lain,
serta kesungguhan dalam meraih pengetahuan. Walaupun status haditsnya lemah,
nilai-nilai yang dikandungnya selaras dengan ajaran Islam yang mendorong
umatnya untuk terus menuntut ilmu sepanjang hayat. Di era modern, pesan ini
semakin relevan, karena kemajuan teknologi memudahkan kita untuk belajar dari
berbagai belahan dunia. Seorang muslim yang berilmu dan berakhlak mulia akan
mampu memberikan manfaat besar bagi diri, masyarakat, dan peradaban dunia.
Referensi:
1. Al-Qur’anul
Karim.
2. Al-Baihaqi,
Shu’ab al-Iman, Juz 2.
3. Al-Ghazali,
Ihya’ Ulumuddin.
4. Al-Zarnuji,
Ta’lim al-Muta’allim.
5. Ibnu Majah,
Sunan Ibnu Majah, Kitab Muqaddimah.
6. M. Quraish
Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat.


Admin Wastu
0 comments:
Posting Komentar