SELAMAT DATANG DI SMP NEGERI 1 WIDANG *WASTU* Sekolah Adiwiyata Nasional - Sekolah Berkarakter - Sekolah Ramah Anak - "Budayakan 5 S : Salam, Sapa, Senyum, Sopan dan Santun"

Selasa, 12 Agustus 2025

Makna di Balik Ungkapan “Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina!”



Dalam khazanah keislaman, terdapat sebuah ungkapan yang sangat populer, yaitu “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Kalimat ini sering dikutip oleh para guru, ustadz, bahkan tokoh masyarakat untuk menegaskan pentingnya menuntut ilmu tanpa batas ruang dan waktu. Ungkapan tersebut, meski sering disangka hadits Nabi Muhammad ﷺ, oleh sebagian ulama dinilai lemah sanadnya. Namun, terlepas dari statusnya, pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap relevan, bahkan semakin penting di era globalisasi ini.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP), menuntut ilmu merupakan kewajiban yang melekat pada setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, sejak lahir hingga akhir hayat. Al-Qur’an dan hadits banyak menegaskan bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia keluar dari kegelapan kebodohan menuju cahaya kebenaran. Ungkapan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” menjadi simbol kesungguhan, ketekunan, dan keluasan cakrawala berpikir yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu.

Asal Usul Ungkapan

Ungkapan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” diduga berasal dari sebuah riwayat hadits yang berbunyi:

> اطلبوا العلم ولو بالصين

Uṭlubū al-‘ilma wa law biṣ-ṣīn

“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.”

Riwayat ini disebutkan dalam beberapa kitab hadits, seperti Musnad al-Bazzar dan Shu’ab al-Iman karya Imam al-Baihaqi. Namun, menurut sebagian besar ahli hadits, sanadnya lemah (dha’if). Meskipun demikian, para ulama seperti Imam al-Ghazali dan al-Zarnuji memandang bahwa makna yang dikandungnya sejalan dengan ajaran Islam tentang kewajiban menuntut ilmu.

Mengapa yang dipilih adalah negeri Cina? Pada masa Nabi ﷺ, Cina dikenal sebagai negeri yang sangat jauh dari Jazirah Arab, dengan jarak ribuan kilometer. Selain itu, Cina terkenal sebagai pusat peradaban, pengrajin, dan penemuan teknologi, seperti kertas dan mesiu. Menyebut Cina sebagai tujuan belajar menjadi simbol kesungguhan menempuh perjalanan jauh demi meraih ilmu.

   Makna Filosofis Ungkapan

Ungkapan ini sarat makna, baik dari segi keagamaan, sosial, maupun pendidikan. Beberapa makna yang dapat kita petik antara lain:

1. Ilmu Tidak Mengenal Batas Geografis

Kalimat ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu tidak dibatasi oleh jarak dan lokasi. Seorang muslim harus siap menempuh perjalanan jauh, bahkan ke tempat yang asing, demi memperoleh pengetahuan yang bermanfaat. Dalam konteks modern, ini bisa diartikan sebagai kesiapan untuk belajar dari berbagai sumber, termasuk dari negara lain, baik secara langsung maupun melalui media digital.

2. Menghargai Peradaban Lain

Islam mengajarkan keterbukaan terhadap peradaban luar selama tidak bertentangan dengan akidah. Pada masa lalu, para ilmuwan muslim banyak belajar dari peradaban Yunani, Persia, dan India, lalu mengembangkannya. Menyebut Cina sebagai tujuan belajar menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk mempelajari kebaikan dari bangsa lain.

3. Kesungguhan dalam Mencari Ilmu

Perjalanan ke Cina pada abad ke-7 bukanlah perkara mudah. Medan berat, biaya besar, dan waktu yang lama menjadi tantangan. Hal ini menunjukkan bahwa mencari ilmu memerlukan pengorbanan, ketekunan, dan kesabaran.

4. Ilmu sebagai Kunci Kemajuan

Ungkapan ini menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan. Belajar dari negeri yang maju di bidang teknologi dan kebudayaan adalah salah satu jalan untuk membangun kekuatan umat.

Relevansi dengan Al-Qur’an dan Hadits

Walaupun haditsnya lemah, pesan moralnya sejalan dengan ajaran Islam yang sahih. Beberapa dalil yang mendukung pentingnya menuntut ilmu antara lain:

1.     Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq ayat 1–5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(١) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ(٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(٤) عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(٥) 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…”

Ayat ini adalah wahyu pertama yang menunjukkan bahwa perintah membaca dan belajar menjadi pondasi agama.

2.     Hadits riwayat Ibnu Majah:

"طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ"

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”

Hadits ini jelas menunjukkan kewajiban menuntut ilmu tanpa memandang jenis kelamin atau status sosial.

3.     Al-Qur’an Surat Al-Mujadilah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١ . 

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ayat dan hadits tersebut memperkuat pesan bahwa Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu dan menghargai para ahli ilmu.

Implementasi dalam Kehidupan Modern

Di era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, “perjalanan” untuk mencari ilmu tidak selalu harus secara fisik. Internet, kursus daring, dan pertukaran pelajar memungkinkan kita menuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia tanpa harus meninggalkan rumah. Namun, esensi dari ungkapan tersebut tetap sama: kesungguhan, keterbukaan, dan keuletan.

Beberapa implementasi yang relevan:

Mengikuti beasiswa ke luar negeri untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mengakses literatur internasional melalui perpustakaan digital.

Menghadiri seminar atau pelatihan yang diisi oleh narasumber dari berbagai negara.

Mempelajari bahasa asing untuk membuka wawasan global.

Pelajaran Budi Pekerti

Dalam mata pelajaran PAIBP, menuntut ilmu tidak hanya berarti menguasai pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk akhlak mulia. Ilmu tanpa akhlak akan membawa kerusakan. Oleh karena itu, proses belajar harus diiringi dengan:

Keikhlasan: menuntut ilmu karena Allah, bukan sekadar mencari popularitas.

Tawadhu’: rendah hati terhadap guru dan sesama penuntut ilmu.

Istiqamah: konsisten belajar meski menghadapi kesulitan.

Berbagi ilmu: menyebarkan pengetahuan untuk kemaslahatan umat.

Kritik dan Klarifikasi

Penting untuk menjelaskan bahwa tidak semua yang populer di masyarakat adalah hadits sahih. Status dha’if pada hadits ini tidak berarti pesannya salah, tetapi kita perlu berhati-hati dalam menyebut sumbernya. Guru dan penceramah sebaiknya menjelaskan kepada peserta didik bahwa makna ungkapan ini tetap sejalan dengan nilai Islam, meskipun tidak termasuk hadits yang kuat sanadnya.

Kesimpulan

Ungkapan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” mengandung pesan moral yang mendalam tentang semangat belajar tanpa batas, keterbukaan terhadap peradaban lain, serta kesungguhan dalam meraih pengetahuan. Walaupun status haditsnya lemah, nilai-nilai yang dikandungnya selaras dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk terus menuntut ilmu sepanjang hayat. Di era modern, pesan ini semakin relevan, karena kemajuan teknologi memudahkan kita untuk belajar dari berbagai belahan dunia. Seorang muslim yang berilmu dan berakhlak mulia akan mampu memberikan manfaat besar bagi diri, masyarakat, dan peradaban dunia.

Referensi:

1. Al-Qur’anul Karim.

2. Al-Baihaqi, Shu’ab al-Iman, Juz 2.

3. Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.

4. Al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim.

5. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab Muqaddimah.

6. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat.


0 comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design Edit by Admin Wastu | Admin : EbeNkPlaosan - Premium Blogger Themes | UPT SMP Negeri 1 Widang