SELAMAT DATANG DI SMP NEGERI 1 WIDANG *WASTU* Sekolah Adiwiyata Nasional - Sekolah Berkarakter - Sekolah Ramah Anak - "Budayakan 5 S : Salam, Sapa, Senyum, Sopan dan Santun"

Hidup dan Menikmati Hidup

Oleh: Nanang Syafi’i

Hidup itu perjalanan kata banyak orang maka nikmati saja setiap langkahnya.

Kadang harus menanjak, kadang harus menurun, kadang view-nya membosankan atau sebaliknya, Gak perlu tergesa-gesa apalagi harus berlari. Kan finish-nya sudah jelas.

Kalau sudah waktunya berhenti dan selesai semuanya akan berhenti begitu saja. Segampang on/off-nyalakan lampu kamar mandi, pokok’e nikmati saja.

Lha wong namanya perjalanan, yang terbentang dan tersaji pastilah warna- warni. Cocok dinikmati gak cocok ya dipaksa dinikmati saja, hehehe. Cape berhenti bugar lanjutkan perjalanan. Gak ada yang maksa apalagi sanksi, paling hanya diomelin istri atau mertua kalau perjalanan kita aras-arasen. Itupun kalau sudah punya istri dan mertua lho.

Jadi, gak perlu kita protes apalagi sampai bawa spanduk dan teriak-teriak layaknya penjual tahu bulat. Lha wong lagi melakukan perjalanan kok malah dipoyoki untuk berlari atau ngebut. Kan gak asyik blas kalau menikmati perjalanan dengan cara ngebut. Bisa-bisa malah jatuh, babak belur, benjut, luka-luka dan bisa mati. Dan yang lebih parah lagi bisa-bisa disyukurno wong sak kampung. Blas, gak asyik blas dan gak keren sama sekali. Wis loro kabeh, mati eeee malah disyukorno.

Jadi hidup ini dinikmati saja, gak usah neko-neko. Ikuti saja alurnya, Ikuti saja iramanya. Meskipun kadang menjengkelkan, gak sesuai selera, apalagi dengan harapan atau resolusi yang telah kita tetapkan. Yakin sajalah, semua perjalan ini, yang tersaji dan terjadi semuanya atas kehendak-Nya. Maka dari itu, saya selalu berusaha untuk yakin dan menikmati apa yang terjadi pada diri ini, meskipun kadang yo onok roso nggresulo. Tapi balik lagi, lha wong tinggal nikmati ae kok yo nggresulo. Tapi yo iku, bali maning iki menungso. Jadi yo gak opo-opo. Yang penting cepat nyadari, ini sebuah perjalanan maka nikmatilah.Sesuai atau sepadan dengan apa yang telah kita canangkan atau tidak, ya kita terima sajalah.

Memasuki usia setengah abad adalah nikmat yang sangat patut disyukuri. Rasa syukur dalam segala wujudnya. Perjalanan yang cukup memberikan pelajaran, pengalaman dan juga hiburan bahkan duka nesta ini, patut untuk dinikmati. Wis gitu saja. Saya gak pernah merasa apalagi menyebut, semua apa yang telah saya alami, saya lakukan ini adalah sebuah pencapaian dari apa yang telah saya tetapkan.

Di sepuluh tahun terakhir ini, saya merasakan apa yang telah menjadi keinginan, ketetapan (resolusi) di setiap tahunnya begitu dimudahkan, dilapangkan oleh Sang Maha Perancang. Tuhan begitu baik kepada saya. Maka saya malu menyebut ini semua sebagai sebuah pencapaian.

Bagi saya, ini sebuah tahapan di mana titik ini menjadi awal bagi titik waktu berikutnya, begitu dan seterusnya. Saya hanya merasa, ini adalah jalan yang harus dilewati, dinikmati. Meski menurut orang lain bisa berbeda penyikapannya. Dan itu sah adanya. Resolusi atau ketetapan hati untuk dicapai dalam kurun perjalanan bagi saya hanya keinginan semata, mainan hidup kehidupan belaka. Dan bukanlah sebuah kebulatan yang meski tercapai. Sebab hidup dan kehidupan ini memiliki logika dan iramanya sendiri. Maka saya pun memaknainya ya suka-suka saja, nyantol alhamdulillah mbleset ya gak apa-apa. Santuy saja. Hehehe.


·

 

Selayaknya orang lain, masa kecil bagai saya, juga merupakan waktu yang sangat menyenangkan, membahagiakan. Waktu yang penuh suka cita dan tawa. Sekolah, bercanda, bermain, dan sesekali perbuatan naif semacam mencuri mangga milik tetangga atau makan jajanan tiga ngaku satu atau dua. Dan perbuatan bodoh lainnya yang selalu diulang-ulang dan tidak kapok-kapok, pulang main bebarengan saat azan maghib lalu royokan mandi.dengan saudara. Itu semua adalah warna perjalanan masa kecil yang tiada bisa diulang lagi. Namun kenangan akan semuanya tentu tak akan lekang oleh waktu. Semuanya terasa asyik dan mengasyikkan.

Masa kecil harapannya hanya satu, yaitu dibolehkan dan dituruti apa yang diminta, dilakukan. Saya pun mengharapkan hal itu. Dan tentu itu juga harapan, impian semua anak kecil. Pengin mandi di laut atau di sungai dibolehkan, mau main sepak bola sampai sore diiyakan, mau nonton teve sampai malam dan begadang di rumah tetangga diizinkan. Wis pokok’e minta dituruti. Alhamdulillah saya merasakan hampir semua hal itu. Meskipun, dengan perjuangan dan terkadang harus menerima omelan dan pukulan kemoceng, hehehehe. Itu semua bagian dari usaha mewujudkan harapan meski berbayar kemarahan orang tua, hehehe.Tapi semua itu tidaklah saya pandang sebagai sebuah kemarahan atau kekesalan namun sebuah harga yang mesti dibayar untuk mencapai keriangan memenuhi keinginan. Semuanya saya pandang sebagai perjalanan sekaligus pembelajaran yang mengasyikan. Cah kene kok dilawan, hehehehe

 

·

 

Memasuki sekolah menengah pertama, saya merasakan hal yang hampir sama dengan masa kecil. Hanya di waktu ini keinginan yang mendalam adalah bisa melihat film setiap Minggu siang, student show namanya. Saat itu, di Tuban masih memiliki tiga gedung bioskop; Pusaka Theater, Tuban Theater, dan Wahyu Theater. Dari tiga gedung bioskop itu, Tuban Theater yang selalu memutar film untuk hari Sabtu dan Minggu siang yang bertajuk Student Show yang diputar mulai pukul 12.00. Sesuai namanya student show, penonton hari itu ya para pelajar dan hampir 99% pelajar laki- laki.

Ketetapan hati untuk selalu dapat memenuhi keinginan tuk tidak melewatkan student show, saya mesti mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk melunasi hasrat tersebut. Setiap Minggu setidaknya harus menyiapkan Rp250,00 untuk tiket masuk menyaksikan pemutaran film. Karena tidak selalu mendapatkan uang saku saat sekolah kecuali saat ada pelajaran Olahraga maka harus cari akal agar dapat mengumpulkan uang sebanyak itu. Tahukah Anda apa yang saya lakukan? Saya yakin apa yang saya lakukan diluar perkiraan Anda. Yang saya lakukan untuk memenuhi hasrat selalu hadir di student show adalah mengharap ada orang meninggal dan memberikan uang selawatan. Mengingat tempat tinggal saya berdekatan dengan pemakaman umum.

Sadis banget ya hehehehe.

Oh ya, film yang menjadi favorit yang menjadi menu utama yang tak boleh terlewatkan adalah film Mandarin. Hampir semua bintang film Mandarin pada saat itu hingga kini masih teringat di memori saya dengan baik; Andy Lau, Chow yun Fat, Aaron


Kwok, Jet Li, Jackie Chan, Stephen Chow, dicky cheung, Tony Leung, Sammo Hung, Sharla Cheung, Michelle Yeoh, Gong Li, ChingmyYau, Kwan Che Lin, Maggie Cheung dan Moon Lee. Iyo to masih ingat bintang film Mandarinkan. Saya yakin Anda tak sehebat saya ingatan tentang mereka. Hehehehe… (jo nesu yo, guyon cik bahagia)

 

·

 

Menginjak usia SMA dan kuliah bagi saya adalah masa pencarian. Menikmati perjalanan masa ini, ibarat merasai nikmanya wahana roller coaster. Perjalanan dibawa penuh ketegangan, histeria, jungkir balik, naik melaju, dan terhempas dengan gundah, berputar pada rasa bahagia dan duka serta resah gelisah. Pokoke kayak lagune Obbie Mesakh, Hehehehe

Layaknya anak putih abu-abu dan kuliahan di mana petualangan mencari identitas diri dan merancang dalam angan kehidupan masa depan mulai tumbuh. Menjadi kesadaran untuk berkomunitas dengan teman yang seide dan sepaham. Solidaritas kelompok adalah yang utama. Pada titik-titik ini, mulai memiliki keinginan- keinginan yang begitu ideal untuk diwujudkan. Rancangan-rancangan keinginan dan atau harapan menjadi resolusi dari waktu ke waktu. Meskipun pada akhirnya resolusi itu jungkir balik dengan sendirinya, berkeping-keping di perjalanan karena tak dapat diwujudkan. Namun, tidak tahu mengapa saya selalu punya energi untuk memaknai semua itu dengan positif meskipun awalnya sempat goyah dan menyalahkan.

Seperti saya ungkapkan di awal tulisan ini, bahwasannya saya selalu menjadikan diri ini sebagai penikmat perjalanan hidup kehidupan ini, apapun yang ada, apapun yang harus dilewati. Cik asyik saja hidup ini. Meskipun babak belur dihajar kegagalan, kegetiran dan keterpurukan di masa-masa pencarian jati diri ini. Tegaknya kepala dan besarnya jiwa menerima yang ada adalah obat yang mujarab bagi saya untuk tetap bisa menikmati dan meneruskan perjalan hidup kehidupan

 

·

 

Ketika semuanya tertata, saya hanya memiliki ketetapan hati atau resolusi saat ini dan nanti, yaitu dapat taat menjalankan keyakinan dan bermanfaat bagi sesama tak lebih dan tak kurang. Dua hal yang tampaknya sederhana namun bagi saya ini tantangan yang luar biasa dan mengasyikkan. Semoga bisa.

 

·

 

 

*Kepala sekolah yang masih belajar menjadi kepala sekolah

0 comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design Edit by Admin Wastu | Admin : EbeNkPlaosan - Premium Blogger Themes | UPT SMP Negeri 1 Widang