Oleh: Nanang Syafi’i
Hidup itu perjalanan kata banyak orang maka nikmati saja setiap langkahnya.
Kadang harus menanjak, kadang harus menurun,
kadang view-nya membosankan atau sebaliknya, Gak perlu tergesa-gesa
apalagi harus berlari. Kan finish-nya sudah jelas.
Kalau sudah waktunya
berhenti dan selesai
semuanya akan berhenti
begitu saja. Segampang on/off-nyalakan lampu kamar mandi, pokok’e nikmati
saja.
Lha
wong namanya perjalanan, yang
terbentang dan tersaji pastilah warna- warni. Cocok dinikmati gak cocok ya
dipaksa dinikmati saja, hehehe. Cape berhenti bugar lanjutkan perjalanan. Gak ada yang maksa apalagi sanksi, paling hanya diomelin istri atau mertua kalau perjalanan
kita aras-arasen. Itupun kalau sudah punya istri dan mertua lho.
Jadi, gak perlu kita protes apalagi sampai bawa spanduk dan
teriak-teriak layaknya penjual tahu bulat. Lha wong lagi melakukan perjalanan
kok malah dipoyoki untuk berlari
atau ngebut. Kan gak asyik
blas kalau menikmati perjalanan dengan
cara ngebut. Bisa-bisa malah jatuh, babak belur, benjut, luka-luka dan
bisa mati. Dan yang lebih parah lagi bisa-bisa disyukurno wong sak kampung. Blas, gak asyik blas dan gak keren sama sekali. Wis
loro kabeh, mati eeee malah disyukorno.
Jadi hidup ini dinikmati saja, gak usah
neko-neko. Ikuti saja alurnya, Ikuti saja iramanya. Meskipun kadang
menjengkelkan, gak sesuai selera, apalagi dengan harapan atau resolusi yang telah kita tetapkan. Yakin sajalah, semua perjalan ini, yang
tersaji dan terjadi semuanya atas kehendak-Nya. Maka dari itu, saya selalu
berusaha untuk yakin dan menikmati apa yang terjadi pada diri ini, meskipun kadang
yo onok roso nggresulo. Tapi
balik lagi, lha wong tinggal nikmati ae kok
yo nggresulo. Tapi yo
iku, bali maning iki menungso.
Jadi yo gak opo-opo. Yang penting cepat nyadari, ini sebuah perjalanan maka nikmatilah.Sesuai
atau sepadan dengan apa yang telah kita canangkan atau tidak, ya kita terima sajalah.
Memasuki usia setengah
abad adalah nikmat
yang sangat patut
disyukuri. Rasa syukur dalam
segala wujudnya. Perjalanan yang cukup memberikan pelajaran, pengalaman dan
juga hiburan bahkan duka nesta ini, patut untuk dinikmati. Wis
gitu saja. Saya gak pernah
merasa apalagi menyebut, semua apa yang telah saya alami, saya lakukan ini
adalah sebuah pencapaian dari apa yang telah saya tetapkan.
Di sepuluh tahun terakhir ini, saya merasakan
apa yang telah menjadi
keinginan, ketetapan (resolusi) di
setiap tahunnya begitu dimudahkan, dilapangkan oleh Sang Maha Perancang. Tuhan
begitu baik kepada saya. Maka saya malu menyebut ini semua sebagai sebuah
pencapaian.
Bagi saya, ini sebuah tahapan di mana titik ini
menjadi awal bagi titik waktu berikutnya, begitu dan seterusnya. Saya hanya
merasa, ini adalah jalan yang harus dilewati,
dinikmati. Meski menurut orang lain bisa berbeda penyikapannya. Dan itu sah adanya. Resolusi atau ketetapan hati
untuk dicapai dalam kurun perjalanan
bagi saya hanya keinginan semata, mainan hidup kehidupan belaka. Dan bukanlah
sebuah kebulatan yang meski tercapai. Sebab hidup dan kehidupan ini memiliki
logika dan iramanya sendiri. Maka saya pun memaknainya ya suka-suka saja, nyantol
alhamdulillah mbleset
ya gak apa-apa. Santuy
saja. Hehehe.
·
Selayaknya
orang lain, masa kecil bagai saya, juga merupakan waktu yang sangat
menyenangkan, membahagiakan. Waktu yang penuh suka cita dan tawa. Sekolah,
bercanda, bermain, dan sesekali perbuatan naif semacam mencuri mangga milik tetangga
atau makan jajanan tiga ngaku satu atau dua. Dan perbuatan bodoh lainnya yang selalu diulang-ulang dan tidak kapok-kapok, pulang main bebarengan saat azan maghib
lalu royokan mandi.dengan
saudara. Itu semua adalah warna perjalanan masa kecil yang tiada bisa diulang
lagi. Namun kenangan akan semuanya tentu tak akan lekang oleh waktu. Semuanya
terasa asyik dan mengasyikkan.
Masa
kecil harapannya hanya satu, yaitu dibolehkan dan dituruti apa yang diminta, dilakukan. Saya pun mengharapkan hal itu. Dan tentu itu juga harapan,
impian semua anak kecil. Pengin mandi di laut atau di sungai dibolehkan,
mau main sepak bola sampai sore diiyakan, mau nonton teve sampai malam dan
begadang di rumah tetangga diizinkan. Wis pokok’e minta dituruti. Alhamdulillah
saya merasakan hampir semua hal itu. Meskipun, dengan perjuangan dan terkadang
harus menerima omelan dan pukulan kemoceng,
hehehehe. Itu semua bagian dari usaha mewujudkan harapan
meski berbayar kemarahan orang tua, hehehe.Tapi semua itu tidaklah saya pandang
sebagai sebuah kemarahan atau kekesalan namun sebuah harga yang mesti dibayar
untuk mencapai keriangan memenuhi keinginan. Semuanya saya pandang sebagai
perjalanan sekaligus pembelajaran yang mengasyikan. Cah kene kok dilawan, hehehehe
·
Memasuki sekolah menengah pertama, saya merasakan
hal yang hampir sama dengan masa kecil. Hanya di waktu ini keinginan yang
mendalam adalah bisa melihat film setiap Minggu
siang, student show namanya. Saat itu, di Tuban
masih memiliki tiga gedung
bioskop; Pusaka Theater, Tuban Theater, dan Wahyu Theater. Dari tiga gedung bioskop itu, Tuban
Theater yang selalu memutar film untuk hari Sabtu dan Minggu siang yang
bertajuk Student Show yang diputar mulai pukul 12.00. Sesuai namanya student show, penonton hari itu ya para pelajar dan hampir 99%
pelajar laki- laki.
Ketetapan hati untuk selalu dapat memenuhi keinginan tuk
tidak melewatkan student show, saya mesti mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk
melunasi hasrat tersebut. Setiap Minggu setidaknya harus menyiapkan Rp250,00
untuk tiket masuk menyaksikan pemutaran film. Karena
tidak selalu mendapatkan uang saku saat sekolah kecuali saat ada pelajaran
Olahraga maka harus cari akal agar dapat mengumpulkan uang sebanyak itu.
Tahukah Anda apa yang saya lakukan? Saya yakin apa yang saya lakukan diluar
perkiraan Anda. Yang saya lakukan untuk memenuhi hasrat selalu hadir di student
show adalah mengharap ada orang
meninggal dan memberikan uang selawatan. Mengingat tempat tinggal saya berdekatan dengan
pemakaman umum.
Sadis banget ya hehehehe.
Oh ya, film yang menjadi favorit yang menjadi menu utama
yang tak boleh terlewatkan adalah film Mandarin. Hampir semua bintang film
Mandarin pada saat itu hingga kini
masih teringat di memori saya dengan baik; Andy Lau, Chow yun Fat, Aaron
Kwok,
Jet Li, Jackie Chan, Stephen Chow, dicky cheung, Tony Leung, Sammo Hung, Sharla Cheung,
Michelle Yeoh, Gong Li, ChingmyYau, Kwan Che Lin, Maggie Cheung dan Moon Lee. Iyo to masih ingat bintang film Mandarinkan. Saya yakin Anda tak
sehebat saya ingatan tentang mereka. Hehehehe… (jo nesu yo, guyon cik bahagia)
·
Menginjak usia SMA dan kuliah bagi saya adalah
masa pencarian. Menikmati perjalanan masa ini, ibarat merasai
nikmanya wahana roller
coaster. Perjalanan dibawa penuh ketegangan, histeria,
jungkir balik, naik melaju, dan terhempas dengan gundah, berputar pada rasa
bahagia dan duka serta resah gelisah. Pokoke
kayak lagune Obbie Mesakh,
Hehehehe
Layaknya anak putih abu-abu dan kuliahan di mana
petualangan mencari identitas diri dan merancang dalam angan kehidupan masa
depan mulai tumbuh. Menjadi kesadaran untuk berkomunitas dengan teman yang
seide dan sepaham. Solidaritas kelompok adalah yang utama. Pada titik-titik
ini, mulai memiliki keinginan- keinginan yang begitu ideal untuk diwujudkan.
Rancangan-rancangan keinginan dan atau harapan menjadi resolusi dari waktu ke waktu. Meskipun pada akhirnya resolusi
itu jungkir balik dengan sendirinya, berkeping-keping di perjalanan
karena tak dapat diwujudkan. Namun, tidak tahu mengapa saya selalu punya energi
untuk memaknai semua itu dengan positif meskipun awalnya sempat goyah dan
menyalahkan.
Seperti saya ungkapkan di awal tulisan ini, bahwasannya saya selalu menjadikan
diri ini sebagai penikmat perjalanan hidup kehidupan ini, apapun yang ada,
apapun yang harus dilewati. Cik asyik saja hidup ini. Meskipun babak belur dihajar
kegagalan, kegetiran dan keterpurukan di masa-masa pencarian jati diri ini.
Tegaknya kepala dan besarnya jiwa menerima
yang ada adalah obat yang mujarab bagi saya
untuk tetap bisa menikmati dan meneruskan perjalan
hidup kehidupan
·
Ketika semuanya tertata, saya hanya memiliki
ketetapan hati atau resolusi saat ini dan nanti,
yaitu dapat taat menjalankan keyakinan dan bermanfaat bagi sesama tak lebih dan tak kurang. Dua hal yang
tampaknya sederhana namun bagi saya ini tantangan yang luar biasa dan
mengasyikkan. Semoga bisa.
·
*Kepala sekolah yang masih belajar
menjadi kepala sekolah


0 comments:
Posting Komentar