Selalu saja begitu dan memang layak begitu. Kanak-kanak tak akan bergegas pergi selepas salat zuhur berjamaah usai. Mereka seperti biasa ada yang tidur-tiduran, ngobrol di teras musala, atau ada yang ke kantin mengisi bensin yang sudah menipis di lambung perutnya. Begitu jamak pemandangan itu tiap hari. Sebelum mereka kembali ke kelas mengikuti dengan sedikit kantuk dan malas di pelajaran ujung waktu. Pandai-pandailah guru-guru di jam-jam kritis itu dengan jurus maut dan jitu yang bikin kanak-kanak terbius. Jika tidak, tak lebih baik nasibnya dengan tukang obat di pasar yang nyerocos tiap waktu tapi sepi pembeli. Tak berefek sama sekali, hilang tak berbekas.
Suasana teras musala
masih tampak ramai dengan obrolan dan canda jail kanak-kanak. Segala rupa
obrolan tercipta di setiap waktu seperti ini. Bahkan canda jail yang tak
terpikir sebelumnya terjadi. Kanak-kanak selalu punya cara jitu tuk menikmati
waktu. Tak ada aturan baku. Semuanya bisa terjadi begitu saja tanpa harus
terencana. seperti siang ini.
"Ayo tadi sapa yang
kentut?" suara tanya di antar kanak-kanak. Langsung saja membuat gaduh dan
bertebaran tanya yang susul menyusul.
"Ayo ngaku!"
teriak yang lain.
"Iya, masak salat
kok kentut? Ya batal", susul kanak-kanak perempuan di ujung teras
"Sudah batal, bau
lagi, terlalu!" susul teman sebelahnya.
"Sudah bau, gak
bunyi lagi. ya gak ketahuan pelakunya", sambung kanak-kanak yang bikin ger
seteras musala.
"Kita doakan saja
habis ini gak bisa kentut, biar tau rasa!" suara kanak-kanak laki-laki,
ditimpali tawa yang lainnya.
"Iya... gak
bisa kentut tujuh hari tujuh malam. Kalau gak mau ngaku!" sahut yang lain.
"Emangnya, bau
kentutnya bau parfum rasa stroberi wangi mewangi?"' imbuh kanak-kanak yang
di tengah dengan jengkelnya.
"Iya kali? Semalam
dan tadi habis makan- sarapan kembang setaman dan sebotol minyak
nyongnyong." timpal yang lain menambah segar suasana siang itu.
"Makanya dia pede
saja kentut, Terus kenapa kita yang ribut?" Meledaklah seketika tawa
kanak-kanak mendengar tanya tersebut sambil mengamini membenarkan. Dan tetap
saja dengan hati jengkel.
Dan banyak lagi tanya
dan umpatan ala kanak-kanak yang susul menyusul menggelikan. Tak akan pernah
habis dan cukup menyelesaikan kasus kentut mereka. Sebelum Pak Toha mengarahkan
mereka cepat kembali ke kelas dengan peluit saktinya.
Pritttt.....
Bubarlah sidang siang
itu. Dan entah esok atau kapan akan digelar lagi. Atau terlupakan begitu saja
dengan kasus yang lain. Begitu dan seterusnya.


0 comments:
Posting Komentar